KHAZANAH

Nemanduru Lompat ke Masjid

Nemanduru Lompat ke Masjid.

Namanya Fauzi Nemanduru, walau namanya Fauzi ia dilahirkan sebagai umat Nasrani di Nias Selatan, tepatnya desa Hiliana kecamatan Gumo. Kampungnya berjarak sekitar 62 km dari Bawomataluo tempat orang Nias suka lompat batu setinggi 2 meter.

Tentu saja Fauzi dengan panggilan lebih akrab Duru tidak merasakan sensasi melayang di udara setinggi 200 centimeter. Duru tidak seberuntung kebanyakan anak-anak di kampungnya, usianya 7 tahun bunda Duru berpulang, saat ia masuk usia remaja ayahnya pun pamit untuk selamanya.

Saudara kandung Duru ada 3 orang dan Hiduplah mereka berstatus yatim piatu, dan Duru sebagai anak ketiga. Akibatnya ia hanya sampai kelas 2 SD saja, hidupnya pun terkatung-katung. Abang paling tua merantau ke Pekan Baru, dan saudara kandung nomor dua mengadu nasib di Subussalam Aceh.

Setelah ayahnya meninggal, ia dipanggil abang sulung ke Pekan Baru menjadi buruh tani di perkebunan sawit. Sampai di pekan baru sebagai buruh tani, ia tidak langsung menghasilkan pendapat, karena harus bekerja untuk membayar hutang adat abangnya, Tonggoraja namanya.

Dan itu hal yang lazim dalam sebuah tradisi adat. Hutang abangnya sekitar 20 juta rupiah untuk pesta perkawinan harus dibayar bersama-sama. Lima tahun Duru di Pekan Baru, 2 tahun untuk bayar hutang adat dan tiga tahun bekerja untuk dirinya.

Setelah hutang itu selesai, ia pisah dari abangnya, tetap sebagai buruh sawit di perkebunan lain. Di sinilah ia mulai bersentuhan dengan Islam. Ia bayar makan pada sebuah warung milik orang jawa muslim. Duru jatuh cinta sama anak pemilik warung. Pemilik warung membolehkan anaknya dipersunting kalau Duru masuk Islam, Duru pun siap bertukar agama demi cinta.

Namun rencana membangun rumah tangga itu pupus, cintanya pun putus di pertengahan jalan. Abang sulungnya mengeluarkan ultimatum ; kalau kau masuk Islam, maka aku bukan lagi saudaramu, dari kami kau sudah lepas. Ultimatum itu berat bagi Duru. Ia pun ikut arahan abangnya untuk kawin dengan wanita seagama dan juga asal Nias yang tinggal di Pekan Baru. Singkat riwayat kawinlah ia dengan Manaira Laiya atas arahan abang sulungnya, dan punya 3 orang anak.

Nasib lagi tidak berpihak ke Duru, istrinya meninggal pula. satu orang anaknya juga ikut rest in peace. Maka ia pun hidup bak layang putus benang, ikut terbang kemana angin berhembus lebih kencang. Dalam kegalauan itu, dua orang anak yang masih hidup hilang dibawa pergi ibu mertua. Ke segala penjuru ia pergi mencari, ia dapati hampa, hiduplah Duru sebatang kara di rantau orang.

Kegalauan itu mengembalikan diri Duru kepada cita-cita awalnya, masuk Islam. Ia sampaikan keinginan itu pada abang sulungnya. Kali ini dibalas berbeda; walau kau masuk Islam nanti, jangan putus hubungan dengan kami. Lalu ditelusurilah dimana abang nomor duanya berada, dan Duru tahu abang nomor dua itu sudah masuk Islam. Bertolaklah ia ke Subussalam Aceh, dan sejak mendapat lampu hijau dari Abang sulung untuk masuk Islam, seringlah Duru dengar penceramah Islam dan yang paling digemari Ustaz Abdussomad. Kata Duru, selain lucu juga masuk ke hati.

Setelah jumpa dengan Abang nomor dua yang sudah duluan Islam, mereka sering berdiskusi membandingkan agama leluhur dengan agama Islam. Paling berkesan bagi Duru adalah soal kebersihan. Islam agama sangat bersih, badan, pakaian dan makanan. Kata Duru; agama yang dulu hanya berdoa saja, tapi Islam ada banyak kegiatan ibadah seperti shalat dan selalu harus bersih.

Selama di Subussalam ia bekerja di perkebunan sawit milik seorang muslim. Berdasarkan pengalaman Duru, ia dapat gaji lebih bagus dibanding kebun sawit sebelumnya. Masyarakat pun menghormatinya karena ia santun dan Adik seorang mualaf. Akhirnya dia buat pernyataan pada pemilik kebun, ia ingin masuk Islam. Saat itu lagi bulan puasa, kata pemilik kebun nanti saja setelah lebaran.

Aneh pulak ni. Setelah Ramadhan berakhir, belum juga diproses keislamannya. Duru menjumpai abang nomor dua minta diproses masuk Islam. Abangnya membawa Duru menjumpa Imam Masjid Danau Trans Subussalam dan Duru pun resmi jadi muslim.

Duru diperkenalkan dengan Muchlish Pohan, pengurus Forum Dakwah Perbatasan di Subussalam, lalu bersama delapan mualaf lain, Duru dibawa ke Banda Aceh untuk pembinaan dasar keislaman, dan mereka akan tinggal di Banda Aceh selama dua bulan. Sebelum berangkat Duru minta izin sama toke sawitnya. Kata beliau belajar di kebun saja, akan didatangkan guru. Tapi Duru mengambil keputusan untuk ikut Pendidikan di Banda Aceh, karena belajar sambil kerja tidak fokus.

Keputusan Duru beriko untuk lapangan kerja, karena Toke bilang; saya tidak jamin lagi kesempatan kerja setelah kamu pulang nanti. Duru sudah bertekad walau harus hilang sumber penghasilan. Ia menikmati hidup sebagai seorang muslim yang menurut Duru lebih tenang di jiwa. Walau ia tidak merasakan sensasi lompat batu di pulau Nias, Duru rasakan sensasi lompat dari gereja ke masjid.

Kini Duru sedang menempuh masa Pendidikan bersama Forum Dakwah Perbatasan. Sudah lima puluh muallaf dibina oleh Forum Dakwah Perbatasan sejak Januari 2022, dan alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Tentu kita semua ingin seperti Muchlis Pohan dan Pembina para Muallaf, tapi waktu dan kesempatan mungkin membatasi, namun tidak menutup kesempatan untuk terlibat mendapatkan pahala mengislamkan dan membina mualaf, maka salurkanlah zakat dan sedekah jariah anda lewat rekening FDP No rek BSI : 2202220102.

Donasi Sekarang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Harta yang kamu makan akan habis, harta yang kamu pakai akan usang, tapi harta yang kamu sedekah kan akan menjadi tabunganmu” (HR. Muslim).

Penulis : Ustd. Teuku Azhar Ibrahim, L

Forum Dakwah Perbatasan

Forum Dakwah Perbatasan (FDP) merupakan lembaga sosial keagamaan yang bertujuan untuk menjaga akidah umat Islam di perbatasan. FDP hadir sejak tahun 2015 di Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Subulussalam serta Aceh Tamiang dengan berbagai program yakni beasiswa pendidikan mulai dari pesantren, perguruan tinggi hingga pasca sarjana bagi anak-anak dari perbatasan dan pedalaman Aceh – Sumut, Pembangunan Masjid dan Mushalla di wilayah yang sulit terjangkau, pengobatan masal, pembangunan rumah dhuafa, pemberian modal usaha tanpa riba, penempatan Da’i di pedalaman, penyaluran hewan kurban serta Sekolah kader Da’i.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button