ACEH SINGKIL – Suasana haru menyelimuti sebuah rumah di Dusun Trans, Desa Lae Balno, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, saat tiga warga mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk agama Islam pada Kamis (24/7/2026). Prosesi yang berlangsung sederhana itu menjadi momen penuh makna, terutama ketika salah seorang mualaf, Remia Laia, tak mampu membendung air mata usai melafalkan syahadat.
Prosesi pengislaman dipandu Da’i Forum Dakwah Perbatasan (FDP), Ustadz Fitradi Aulia, serta disaksikan Camat Danau Paris Bungaran Tumanggor, Koordinator Forum Dakwah Perbatasan Ustadz Muchlis Pohan, imam dusun, tokoh masyarakat, pemuda, dan warga setempat.
Tiga warga yang mengucapkan syahadat tersebut adalah Remia Laia, Ahmad Basri Tumangger, dan Olivia Tumangger. Masing-masing memiliki latar belakang dan perjalanan hidup yang berbeda hingga akhirnya memutuskan memeluk Islam.
Di antara ketiganya, kisah Remia Laia menjadi perhatian para saksi yang hadir. Perempuan penyandang tunanetra itu memilih memeluk Islam menjelang rencana pernikahannya dengan seorang pria muslim yang juga merupakan penyandang tunanetra. Dengan suara yang bergetar, Remia mengucapkan syahadat hingga selesai. Sesaat setelah itu, ia menangis haru, sementara sejumlah warga yang menyaksikan prosesi tersebut tampak ikut meneteskan air mata.
Berbeda dengan Remia, Ahmad Basri Tumangger dan Olivia Tumangger memiliki perjalanan spiritual yang berawal dari dinamika keluarga. Keduanya lahir sebagai Muslim, namun setelah kedua orang tua mereka berpisah dan sang ibu menikah kembali dengan pria beragama Kristen, mereka mengikuti keyakinan ibunya.
Seiring berjalannya waktu, keduanya kembali bertemu dengan ayah kandung mereka. Pertemuan itu menjadi titik awal tumbuhnya keinginan untuk kembali memeluk Islam. Dengan kesadaran pribadi, Ahmad Basri dan Olivia kemudian menyatakan syahadat melalui bimbingan Da’i Forum Dakwah Perbatasan.
Dalam tausiah usai prosesi syahadat, Ustadz Saprianto mengingatkan para mualaf bahwa perjalanan sebagai seorang Muslim baru dimulai setelah mengucapkan ikrar keislaman.
“Jangan pernah malu belajar agama. Belajarlah semampunya, sedikit demi sedikit. Hidayah Allah itu sangat mahal. Ia bisa datang melalui jalan yang tidak pernah kita duga. Terkadang Allah meminta kita melewati ujian dan pengorbanan yang besar sebelum mengangkat derajat kita menuju ketakwaan,” pesannya.
Sebagai bentuk pendampingan awal, Forum Dakwah Perbatasan menyalurkan bantuan zakat kepada ketiga mualaf. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan awal mereka sekaligus menjadi dukungan moral dalam menjalani kehidupan sebagai Muslim.
Koordinator Forum Dakwah Perbatasan, Ustadz Muchlis Pohan, menegaskan bahwa pendampingan kepada para mualaf tidak berhenti pada prosesi syahadat. Menurutnya, pembinaan akidah dan pendidikan menjadi bagian penting agar para mualaf dapat menjalani kehidupan beragama secara lebih mantap.
FDP juga berencana memfasilitasi pendidikan Ahmad Basri Tumangger dan Olivia Tumangger di pondok pesantren sebagai bagian dari program pembinaan berkelanjutan. Sementara itu, masyarakat yang hadir berharap Remia Laia bersama calon suaminya juga memperoleh pendampingan, baik dalam penguatan keagamaan maupun pemberdayaan ekonomi, sehingga dapat membangun kehidupan yang mandiri.
Bagi Forum Dakwah Perbatasan, peristiwa di Desa Lae Balno bukan sekadar prosesi pengucapan syahadat. Momentum tersebut menjadi awal dari proses pendampingan jangka panjang bagi para mualaf, khususnya di wilayah perbatasan Aceh Singkil yang selama ini menjadi salah satu fokus kegiatan dakwah dan pembinaan masyarakat. []



