RAMADHAN selalu menghadirkan cerita-cerita yang menyentuh hati. Di Masjid Al-Ikhlas, di sela-sela lantunan ayat suci saat tadarus malam, terselip kisah sederhana yang justru menghadirkan makna mendalam tentang ketulusan dan kemuliaan hati.
Juwardin, dai pebatasan yang ditempatkan oleh lembaga Forum Dakwah Perbatasan (FDP) di Desa Bun Bun Indah, Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara berbagi kisah di hari ketiga Ramadhan.
Malam itu, Sabtu (21/2) sesaat setelah para remaja tengah melaksanakan tadarus Al-Qur’an seperti biasa. Suasana masjid hangat, meski sesekali terdengar suara anak-anak kecil bermain berlarian di pelataran. Di tengah jeda istirahat tadarus, tiba-tiba datang seorang perempuan bernama Sadidah. Selama ini ia dikenal warga sebagai sosok yang “kurang waras”.
Ia menghampiri jamaah dan berkata pelan, ingin ikut tadarus. Tanpa banyak tanya, mikrofon pun diserahkan kepadanya.Yang terjadi kemudian membuat banyak orang terdiam.
Dengan suara lirih, tenang, dan penuh kekhusyukan, ia membaca ayat demi ayat Al-Qur’an dari Surat Al-Furqan. Tidak terganggu oleh kegaduhan anak-anak di sekitar. Tidak pula canggung dengan tatapan sebagian jamaah. Bacaan itu mengalir pelan, seolah ia sedang berbicara langsung dengan Rabb-nya.
Malam itu, suasana masjid terasa berbeda
Perempuan tersebut memang dikenal mengalami gangguan mental. Sebagian warga menyebut ia mengalami stres berat sejak ditinggal mati suaminya. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Ia sering terlihat berjalan sendiri, berbicara seperlunya, dan bekerja mengambil kayu bakar untuk dijual.
Namun di balik kondisinya, ia tetap menyimpan satu hal yang tidak hilang: semangat berbuat baik. Dua hari sebelumnya, bertepatan dengan hari Jumat, ia terlihat mengumpulkan kayu bakar. Saat diajak berbincang, percakapan sederhana pun terjadi.
“Jangan lupa puasa ya, Bu,” ujar seorang guru ngaji yang juga dai di kampung tersebut.
Dengan polos ia menjawab, “Hari ini tidak puasa, masih halangan.”
Percakapan berlanjut ringan. Kayu bakar yang ia kumpulkan terlihat banyak, bahkan di rumahnya tersusun rapi. Ia memang mengambil kayu untuk dijual demi menyambung hidup.
Namun yang membuat sang guru terharu adalah ucapannya berikutnya.
“Ini kayu bakar untuk ustadz,” katanya sambil menyebut sang Ustaz dengan panggilan, “Bos.”
Sang ustadz menolak halus dan menyarankan agar kayu itu dijual saja. Namun perempuan itu bersikeras.
“Kamu kan guru ngaji di sini, dai di sini. Ini kayu bakar untukmu. Kalau kamu masak, tidak susah lagi cari kayu bakar.” Ucapan sederhana itu terasa begitu dalam.
Ramadhan dan Kemuliaan Hati
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari kondisi lahirnya. Di mata manusia, ia mungkin dianggap tidak sempurna. Namun di hadapan Allah, bisa jadi amal dan ketulusannya jauh lebih bernilai.
Ramadhan memang bulan pembuktian. Bukan hanya bagi mereka yang kuat secara fisik dan mental, tetapi juga bagi siapa saja yang masih memiliki secercah iman di hati.
Perempuan itu mungkin kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Ia mungkin diuji dengan kesedihan yang berat. Namun ia tidak kehilangan kebaikan.
Ia tetap ingin membaca Al-Qur’an. Ia tetap peduli kepada orang lain. Ia tetap ingin memberi, meski hidupnya sendiri serba kekurangan.
Dari kisah sederhana ini, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik: Jangan pernah meremehkan siapa pun. Bisa jadi orang yang kita anggap lemah justru memiliki hati paling kuat. Kebaikan tidak menunggu kesempurnaan. Dalam kondisi apa pun, seseorang tetap bisa berbagi dan berbuat baik.
Ramadhan adalah bulan menghidupkan nurani. Bahkan hati yang terluka pun masih bisa terpaut pada Al-Qur’an. Keikhlasan sering hadir dalam bentuk paling sederhana. Seikat kayu bakar mungkin tampak kecil, tetapi niat di baliknya begitu besar.
Malam itu, tadarus tidak hanya tentang membaca ayat-ayat suci. Ia berubah menjadi pelajaran hidup yang nyata. Tentang kesabaran, tentang kehilangan, tentang ketulusan yang tidak pudar oleh keadaan.
Di sebuah sudut kampung, seorang perempuan yang dianggap “kurang waras” justru mengajarkan arti kemuliaan Ramadhan yang sesungguhnya.
MasyaAllah, kadang Allah menghadirkan pelajaran bukan dari mimbar, tetapi dari hati yang tulus. []



