SAAT dunia terus bergulat dengan isu global, di sudut tenang perbatasan Aceh, berlangsung fenomena yang menggetarkan hati: gelombang manusia yang menemukan cahaya hidayah dan memeluk Islam. Mereka datang dari berbagai latar belakang, suku, dan kisah hidup yang berliku, namun semua berhenti pada satu titik: keinginan kuat menjadi bagian dari umat Islam.
Salah satu peristiwa terbaru yang meneguhkan hal ini terjadi pada Ahad, 5 Januari 2025, saat Purba Krisman Sianipar, seorang pria asal Sidikalang, mengucapkan dua kalimat syahadat di Kantor Forum Dakwah Perbatasan (FDP) Wilayah Subulussalam. Ia tidak sendiri. Hari itu, total lima orang mengikrarkan syahadat, termasuk satu keluarga dari Desa Jontor, Kabupaten Pakpak Bharat, yang sebelumnya telah masuk Islam namun belum memiliki dokumen formal.
Kisah Purba adalah cermin proses panjang pencarian kebenaran. Sejak duduk di bangku SMP, ia telah tertarik dengan ajaran Islam. Ia kerap bergabung dalam kegiatan keagamaan di sekolah, terutama saat perayaan hari besar Islam. Meski belum berani mengambil langkah besar saat itu, benih hidayah sudah tumbuh dalam hatinya.
Titik balik terjadi ketika pada Desember 2024, Purba mendapat pekerjaan di Kota Subulussalam, sebuah wilayah yang dikenal sebagai simpul lintas budaya dan agama di perbatasan Aceh–Sumatera Utara. Di tempat baru ini, semangat untuk memeluk Islam kembali membuncah. Dan pada awal Januari 2025, ia menyampaikan niatnya kepada Kepala Desa Penanggalan Barat, yang kemudian mengantarnya ke kantor FDP.
Prosesi pensyahadatan berlangsung sederhana namun penuh haru. FDP mencatat dan memfasilitasi seluruh proses, termasuk pengurusan dokumen resmi dan rencana pembinaan lanjut.
Robet Berutu dan Keluarga: Menyempurnakan Proses Hijrah
Dalam kesempatan yang sama, Robet Berutu, warga Desa Jontor, membawa kisah lain. Bersama keluarganya, ia mengaku telah bersyahadat setahun sebelumnya, namun belum tercatat secara resmi sebagai Muslim karena masih memegang dokumen beragama Nasrani. FDP pun mengambil langkah proaktif: mensyahadatkan ulang secara formal dan menerbitkan surat syahadat resmi. Dengan demikian, tidak hanya status keyakinan mereka menjadi jelas, tetapi juga siap mengikuti program pembinaan intensif.
Apa yang terjadi di Subulussalam bukanlah kejadian sporadis. Forum Dakwah Perbatasan (FDP) telah sejak lama aktif menyebarkan dakwah Islam di kawasan tapal batas Aceh, termasuk daerah seperti Aceh Singkil, Aceh Tenggara, dan Subulussalam. Dengan pendekatan santun, merangkul, dan berlandaskan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, para dai FDP membina hubungan yang erat dengan masyarakat sekitar, termasuk warga non-Muslim.
Salah satu program unggulan FDP adalah Pembinaan Pasca-Syahadat Selama 45 Hari yang diadakan di Banda Aceh. Program ini dirancang agar para mualaf tidak hanya mengenal Islam secara spiritual, tetapi juga memahami ajaran agama dalam aspek ibadah, akidah, muamalah, hingga keterampilan hidup Islami.
Mengapa Aceh? Mengapa Perbatasan?
Aceh memiliki posisi unik dalam peta sosiokultural Indonesia. Selain dikenal sebagai Serambi Mekkah, Aceh adalah satu-satunya provinsi yang menerapkan syariat Islam secara formal. Namun, justru di kawasan perbatasan, di mana mayoritas masyarakat masih campuran antara Muslim dan non-Muslim, geliat dakwah dan gelombang mualaf semakin terasa kuat.
Beberapa faktor yang memengaruhi fenomena ini antara lain:
Keteladanan Sosial Umat Islam Lokal: Kehidupan sosial masyarakat Muslim yang menjunjung nilai kekeluargaan dan kepedulian sosial memikat hati banyak orang.
Kehadiran Dakwah Humanis: Para dai di perbatasan lebih mengedepankan pendekatan kultural dan sosial daripada konfrontatif, menciptakan ruang dialog yang sehat dan terbuka.
Krisis Identitas Spiritual: Banyak warga perbatasan yang mengalami kegelisahan spiritual, dan Islam hadir sebagai jawaban yang menenangkan hati.
Mobilitas Ekonomi: Banyak yang berpindah tempat untuk bekerja atau berdagang, lalu bersinggungan dengan komunitas Muslim yang kuat dalam nilai dan solidaritasnya.
Fenomena yang Terus Tumbuh
Data dari FDP mencatat bahwa dalam dua tahun terakhir, jumlah mualaf yang dibimbing mereka terus meningkat. Tak hanya dari etnis Batak atau Pakpak Bharat, tapi juga dari etnis Jawa, Nias, hingga Tionghoa. Mayoritas berasal dari kalangan usia produktif dan sebagian dari mereka bahkan membawa serta keluarganya dalam proses hijrah.
Para mualaf ini tak hanya memeluk agama baru, tapi juga menjadi bagian aktif dari pembangunan masyarakat Muslim perbatasan. Mereka diajak ikut serta dalam majelis taklim, pelatihan usaha kecil, bahkan difasilitasi untuk mendapatkan pekerjaan halal pasca pembinaan.
Fenomena masuk Islam di perbatasan Aceh adalah berkah, namun juga tanggung jawab. Di balik gemuruh takbir dan haru biru prosesi syahadat, ada kebutuhan besar akan bimbingan lanjut: literasi keislaman, penguatan akidah, dan pembinaan ekonomi berbasis Islam.
Para dai dan relawan di bawah FDP telah berjuang dengan segala keterbatasan. Maka menjadi tanggung jawab umat Islam di mana pun berada untuk mendukung gerakan ini—baik dalam bentuk bantuan dana, pengiriman dai, maupun pengembangan kurikulum pembinaan mualaf yang relevan dan berkesinambungan.
Islam yang Menyapa, Bukan Memaksa
Apa yang terjadi di perbatasan Aceh mengingatkan kita semua bahwa Islam menyapa hati manusia dengan kelembutan, bukan tekanan. Kisah Purba Krisman Sianipar dan Robet Berutu adalah bukti nyata bahwa hidayah datang lewat jalan yang unik, dan ketika tangan-tangan dakwah hadir dalam bentuk pelayanan, cinta, dan keikhlasan—maka cahaya kebenaran akan menemukan jalannya. []
***
Facebook:https://m.facebook.com/fdp.aceh/
Intagram: https://www.instagram.com/fdp.id?igsh=MXdnOWh2Y3Blcnk5cQ==
Youtube: https://m.youtube.com/@fdptv3209
No.rekening :
1. BSI an. Dakwah Perbatasan 4194431650.
2. Bank Aceh Syariah an. Yayasan Forum Dakwah Perbatasan 01001080000421
3. MayBank Syariah an. Yayasan Forum Dakwah Perbatasan 2707001392



