PIDIE JAYA – Hujan belum reda ketika air mulai merayap masuk ke permukiman warga Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Selasa siang, 26 November 2025. Awalnya setinggi mata kaki, lalu naik perlahan hingga selutut orang dewasa. Bagi sebagian warga, itu pertanda biasa. Namun malam itu, banjir berubah menjadi ancaman serius, terutama bagi para santri yang tinggal jauh dari keluarga.
Sekitar pukul 13.00 WIB, genangan mulai menutup halaman rumah. Para santri SMK Tengku Chiek Pante Geulima memilih mengungsi sementara ke rumah Ustadz Makmur. Air masih bisa ditoleransi. Tapi situasi berubah drastis pada Rabu malam, sekitar pukul 22.00 WIB. Arus semakin deras, dan air kembali naik dengan cepat.
Puncak kepanikan terjadi pada Rabu dini hari, pukul 03.00 WIB. Air mulai masuk ke dalam rumah. Dalam gelap dan hujan yang belum berhenti, para santri harus mengambil keputusan cepat untuk menyelamatkan diri.
Tak ada perahu. Tak ada waktu. Satu-satunya jalan adalah ke atas.
Melalui jendela, mereka naik ke atap rumah. Dari sana, langkah-langkah kecil dan penuh kehati-hatian membawa mereka berpindah dari satu atap ke atap lain. Seorang warga setempat membantu menunjukkan jalur aman menuju bangunan asrama santri laki-laki yang masih dalam tahap pembangunan, satu-satunya tempat yang relatif lebih tinggi dan aman dari kepungan air.
Tiga santri kelas I—Rahma (16) dan Sulaiman (16) asal Aceh Tenggara, serta Putri (16) dari Subulussalam, termasuk yang mengalami langsung detik-detik mencekam itu. Jauh dari orang tua, mereka bertahan di bangunan setengah jadi dengan fasilitas seadanya.
“Alhamdulillah kami tinggal di asrama laki-laki yang masih dalam pembangunan, kak. Kami juga masih bisa makan,” tutur Putri, mengenang malam penuh kecemasan tersebut.
Kabar tentang kondisi para santri baru berhasil diterima dua hari kemudian, pada 28 November 2025. Informasi itu segera direspons oleh Forum Dakwah Perbatasan (FDP). Tanpa menunggu lama, lembaga ini menyiapkan langkah evakuasi.
Pada Jumat sore, 28 November 2025, sekitar pukul 15.00–16.00 WIB, para santri dievakuasi dari Meureudu menuju Sigli. Mereka sementara dititipkan di rumah salah satu santriwati. Proses evakuasi didampingi langsung oleh tim penanggung jawab FDP, termasuk Dr. Nurkhalis, yang menjemput para santri dari lokasi terdampak.
Sementara itu, pemandangan pascabanjir di Meureudu menyisakan luka. Puing kayu, lumpur, dan material bangunan berserakan menutup jalan dan halaman rumah warga. Asrama santri laki-laki, bangunan yang malam itu menjadi tempat berlindung, berdiri di antara reruntuhan, menjadi saksi bisu perjuangan menyelamatkan diri dari banjir bandang yang datang tiba-tiba.
Rangkaian pemulangan santri berlanjut pada 4 Desember 2025. Dari Sigli, mereka dijemput Ustadz Yoga menuju Banda Aceh. Sebelum kembali ke daerah asal, para santri beristirahat di rumah Juang Ibrahim Ahmad, putra Ustadz Muchlis Pohan, atas arahan langsung beliau.
Sehari kemudian, 5 Desember 2025, para santri akhirnya dipulangkan ke kampung halaman masing-masing. Untuk perjalanan Banda Aceh-Subulussalam, Ustadz Daud Abu Hamzah dari Forum Dakwah Perbatasan mendampingi langsung hingga para santri tiba dengan selamat dan diserahkan kepada keluarga.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa di tengah bencana, keselamatan anak-anak, terutama mereka yang sedang menuntut ilmu, tidak boleh menjadi urusan sampingan. Respons cepat, kepedulian warga, dan kerja kolektif lembaga sosial menjadi kunci penyelamatan.
Banjir bandang Meureudu bukan hanya cerita tentang air yang meluap, tetapi juga tentang keberanian, solidaritas, dan tanggung jawab bersama untuk memastikan pendidikan tetap berlanjut, bahkan di tengah situasi paling genting. []
Penulis: Siti Fatimah Az-Zahra, Universitas Bina Bangsa Getsempena, Banda Aceh




