BANDA ACEH, 10 Juni 2025 – Dalam suasana penuh haru dan semangat menjemput cahaya ilahi, sebanyak 15 mualaf dari pelosok Subulussalam menapaki babak baru kehidupan mereka sebagai Muslim. Mereka adalah para pencari kebenaran yang kini mengikuti Program Pembinaan Intensif selama 45 hari di Markas Dewan Dakwah Aceh, hasil sinergi antara Forum Dakwah Perbatasan (FDP) dan Dewan Dakwah Aceh.
Mereka datang dari latar kehidupan yang sederhana, sebagian besar hidup di tengah perkebunan sawit yang jauh dari akses dakwah reguler. Namun, hati mereka telah digerakkan oleh cahaya iman, dan kini mereka berjuang menapaki jalan baru, jalan Islam, jalan keselamatan dunia dan akhirat.
Menurut Koordinator FDP Kota Subulussalam, Muchlis Pohan, program ini merupakan bagian penting dari tanggung jawab dakwah kepada saudara-saudara baru kita dalam Islam.
“Tujuan kami bukan hanya mengislamkan mereka, tapi membentuk pribadi Muslim yang kokoh iman, mandiri secara ekonomi, dan siap menjadi cahaya di lingkungannya masing-masing,” ujarnya, Selasa (10/6).
Dalam program ini, para mualaf tak hanya diajarkan tata cara ibadah seperti wudhu, shalat, dan bacaan Al-Qur’an, tapi juga mendapat pembekalan akidah, pemahaman dasar-dasar Islam, dan nilai-nilai keislaman yang menyeluruh. Mereka dibimbing oleh ulama dan guru yang berpengalaman dari dayah-dayah serta Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh dan Aceh Besar.
Pembinaan dilakukan secara bertahap dalam tiga level. Setelah mengikuti pelatihan intensif level satu di Banda Aceh, para mualaf akan kembali ke tempat tinggal mereka dan menjalani pembinaan lanjutan (level dua) secara langsung oleh dai yang dikirim FDP. Setiap keluarga mualaf akan mendapatkan bimbingan dalam 18 pertemuan yang fokus pada penguatan iman, praktik ibadah, dan pembiasaan hidup Islami.
“Level tiga adalah tahap akhir bagi mereka yang menunjukkan minat dan potensi lebih, terutama yang memiliki latar belakang pelayanan di agama sebelumnya,” jelas Muchlis.
Mereka yang masuk tahap ini akan mendapatkan pelatihan dakwah lebih lanjut, dengan harapan kelak mereka bisa menjadi pelita Islam di komunitasnya sendiri.
Tak hanya soal ibadah, para mualaf ini juga diberikan pelatihan kewirausahaan agar mampu berdiri tegak secara ekonomi.
“Keimanan yang kuat perlu ditopang oleh kemandirian. Kami ingin mereka menjadi mualaf yang tidak hanya istiqamah dalam Islam, tapi juga terhormat dalam kehidupan,” pungkas Muchlis.
Muchlis juga mengajak umat Islam di Aceh dan seluruh Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam gerakan dakwah pembinaan mualaf ini.
“Mereka telah mengorbankan kenyamanan masa lalu demi kebenaran. Sudah semestinya kita merangkul mereka dengan cinta, bukan sekadar mengenalkan Islam, tapi membimbing hingga mereka menjadi pribadi yang utuh dalam keislaman,” serunya.
Di tengah tantangan zaman, kisah 15 mualaf ini menjadi pengingat bahwa hidayah Allah terus berembus ke berbagai penjuru, menanti kita semua untuk menjadi penyalur dan penjaganya. Semoga mereka menjadi generasi baru penerus dakwah, dan semoga umat Islam semakin bersatu menjaga lentera hidayah ini tetap menyala. []



