DAIRI – Di tengah dinding yang belum sepenuhnya rapi dan lantai yang masih sederhana, suasana Ramadhan di Masjid Al-Huda, Desa Lae Ambat, Kecamatan SIlima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara justru terasa semakin hidup.
Syafriansyah Pasi, Dai yang ditugaskan Forum Dakwah Perbatasan (FDP) di Kecamatan Dairi, melaporkan, saat lantunan adzan Isya menggema di penjuru desa, memanggil masyarakat untuk berkumpul dalam satu saf. Sekitar 30 jama’ah—mulai dari orang tua, pemuda, hingga anak-anak—melangkahkan kaki menuju Masjid Al-Huda dengan penuh harap akan rahmat dan ampunan Allah di bulan suci.
Usai shalat Isya, jama’ah menunaikan shalat Tarawih dan Witir dengan khidmat. Meski beberapa bagian bangunan belum selesai dan fasilitas masih terbatas, setiap rakaat yang ditegakkan terasa istimewa. Tidak ada keluhan, tidak ada surut langkah. Justru di tengah proses pembangunan fisik itulah, semangat membangun iman tampak semakin nyata.
Suasana haru berlanjut selepas shalat. Masjid kembali dipenuhi suara merdu lantunan ayat suci Al-Qur’an. Anak-anak TPA Masjid Al-Huda duduk melingkar, masing-masing membawa mushaf di tangan kecil mereka. Dengan penuh semangat, mereka membaca ayat demi ayat secara bergantian.
Di bawah bimbingan seorang Da’i FDP yang bertugas di Lae Ambat, bacaan mereka diperbaiki satu per satu—makhrajnya diluruskan, tajwidnya dibenarkan. Sang da’i membimbing dengan sabar dan telaten, menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini. Pemandangan itu menjadi potret indah Ramadhan di desa: masjidnya sedang dibangun, dan generasi mudanya pun sedang ditempa.
Meski jumlah jama’ah tidak terlalu besar, kebersamaan terasa begitu erat. Dalam kesederhanaan bangunan yang belum sempurna, ukhuwah Islamiyah justru semakin kokoh. Masjid Al-Huda bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat pembinaan umat—tempat bertemunya doa, harapan, dan cita-cita masyarakat.
Ramadhan di Desa Lae Ambat tahun ini bukan hanya tentang rutinitas tahunan. Ia menjadi simbol perjuangan: membangun rumah Allah secara fisik sekaligus membangun jiwa-jiwa yang taat dan cinta Al-Qur’an. Setiap sujud, setiap lantunan ayat, hingga setiap tetes keringat dalam proses renovasi, menyatu dalam semangat kebangkitan iman.
Di tengah keterbatasan, Masjid Al-Huda mengajarkan satu hal sederhana namun bermakna: kemegahan iman tidak selalu bergantung pada megahnya bangunan. Justru dari dinding yang belum rampung itu, cahaya Ramadhan memancar lebih terang—menguatkan langkah masyarakat Desa Lae Ambat menuju keberkahan.
Semoga Ramadhan ini menjadi saksi bangkitnya iman dan semakin kokohnya persaudaraan di Desa Lae Ambat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. []



