KHAZANAH

Lucas, Pemuda Tiongkok yang Temukan Hidayah Islam di Aceh

HIDAYAH bisa datang dari arah yang tak disangka. Itulah yang dialami oleh Zhang Zhijie, seorang pemuda asal Ningbo, Tiongkok, yang kini lebih akrab disapa Lucas. Di usia 23 tahun, pria yang berprofesi sebagai engineer ini resmi memeluk agama Islam di Masjid Raya Baiturrahman, ikon spiritual masyarakat Aceh, setelah perjalanan panjang pencarian Tuhan yang ia lakukan sejak lama.

Lucas mengaku tumbuh dalam lingkungan yang atheis di negaranya. Sejak remaja, ia mulai mempertanyakan makna hidup dan keberadaan Tuhan. Dalam upaya pencariannya, ia mempelajari berbagai agama secara mandiri, termasuk Islam, yang ia pelajari secara intens melalui internet.

Sekitar sembilan bulan lalu, langkah pencariannya membawanya mengenal seorang aneuk dara Aceh yang shalihah. Mereka berkenalan saat sama-sama belajar bahasa Inggris secara daring. Dari perkenalan itu, diskusi soal Islam pun mengalir. Lucas kerap bertanya tentang konsep Tuhan dalam Islam, ibadah, hingga kehidupan umat Muslim.

Liburan akhir tahun menjadi momentum penting. Lucas memutuskan berkunjung ke Aceh, tak hanya untuk bertemu sang sahabat, tetapi juga melihat langsung bagaimana Islam dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Setibanya di Aceh, Lucas diajak berkeliling ke Sabang bersama sahabat dan kawan-kawannya. Namun, hatinya terpaut pada kehidupan Muslim di Banda Aceh. Ia mengaku terkesan dengan keteraturan umat Islam dalam menjalankan shalat lima waktu, di tengah kesibukan hidup modern.

“Saya heran, tapi juga kagum. Muslim di sini tetap disiplin menjalankan shalat meskipun hidup mereka sibuk,” ujarnya dalam perbincangan santai di Banda Aceh.

Tak hanya itu, ia juga mengagumi para Muslimah yang berhijab dengan anggun dan tetap aktif di berbagai bidang kehidupan. Ia menyebut Islam sebagai agama yang “teratur, damai, dan manusiawi.”

Selama berada di Banda Aceh, Lucas kerap menyampaikan keinginannya untuk segera memeluk Islam. Meskipun telah dijelaskan bahwa menjadi Muslim berarti siap menjalankan kewajiban seperti shalat, puasa, khitan, bahkan berhaji, Lucas tetap mantap.

“Saya siap. Bahkan kalau bisa, saya ingin naik haji sekarang juga,” ujar Lucas dengan senyum penuh keyakinan.

Melihat keteguhan hati Lucas, sahabatnya dan beberapa rekan memutuskan untuk membawanya ke Masjid Raya Baiturrahman. Mereka menghubungi pengurus Forum Dakwah Perbatasan (FDP) untuk memfasilitasi prosesi pensyahadatan.

Tepat setelah shalat Zuhur, di tengah suasana khusyuk Masjid Raya, Lucas mengikrarkan dua kalimat syahadat. Proses pembimbingan dilakukan oleh Ustaz Daniel Rinanda, SE, Sekretaris Pusat Pembinaan dan Pemberdayaan Muallaf FDP, disaksikan oleh Ustaz Daud dan tim.

Suasana haru menyelimuti masjid. Air mata kebahagiaan tak tertahan ketika Lucas mengucapkan, “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah.”

Momen ini menjadi salah satu jejak dakwah global Masjid Raya Baiturrahman, membuktikan perannya sebagai pusat cahaya Islam, bukan hanya untuk Aceh, tapi juga dunia.

Setelah bersyahadat, Lucas diajak bersilaturahmi ke kediaman Ustaz M. Hatta Sekian, Lc, MA, salah seorang Dewan Penasehat FDP. Di sana, ia mendapatkan nasihat seputar ajaran Islam serta menunaikan shalat pertamanya sebagai seorang Muslim.

Selama seminggu tinggal di Aceh, Lucas menyerap banyak nilai dan pengalaman keislaman. Keesokan harinya, ia dijadwalkan kembali ke Tiongkok melalui Kuala Lumpur, sebelum melanjutkan tugas kerjanya di Meksiko.

Namun, Lucas mengaku tak ingin menjadikan kunjungannya ke Aceh sebagai yang terakhir. Ia telah jatuh cinta pada atmosfer keislaman di Serambi Mekkah ini dan berharap bisa kembali lagi suatu hari nanti.

“Aceh seperti rumah spiritual bagi saya,” tuturnya sebelum berangkat.

Kisah Lucas bukan hanya cerita personal. Ia adalah cermin bahwa Islam, bila disampaikan dengan kasih sayang, akhlak mulia, dan keteladanan nyata, akan menyentuh hati siapa pun, dari bangsa dan budaya mana pun.

Fenomena mualaf seperti Lucas menjadi bukti bahwa dakwah yang santun dan inklusif memiliki daya tarik luar biasa. Di tengah dunia yang serba digital dan saling terkoneksi, nilai-nilai Islam tetap bisa bersinar dan menjawab kegelisahan spiritual manusia modern. []

 

Forum Dakwah Perbatasan

Forum Dakwah Perbatasan (FDP) merupakan lembaga sosial keagamaan yang bertujuan untuk menjaga akidah umat Islam di perbatasan. FDP hadir sejak tahun 2015 di Aceh Singkil, Aceh Tenggara, Subulussalam serta Aceh Tamiang dengan berbagai program yakni beasiswa pendidikan mulai dari pesantren, perguruan tinggi hingga pasca sarjana bagi anak-anak dari perbatasan dan pedalaman Aceh – Sumut, Pembangunan Masjid dan Mushalla di wilayah yang sulit terjangkau, pengobatan masal, pembangunan rumah dhuafa, pemberian modal usaha tanpa riba, penempatan Da’i di pedalaman, penyaluran hewan kurban serta Sekolah kader Da’i.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button