DI SUDUT perbatasan Aceh-Sumatera Utara, jauh dari hiruk-pikuk kota, kehadiran para dai menjadi cahaya penuntun bagi masyarakat yang mendambakan kedalaman ilmu agama dan ketenangan batin.
Salah satu wilayah yang merasakan langsung manfaat dakwah ini adalah Desa Adian Nangka, sebuah desa yang cukup terpencil di Dairi, Sumatera Utara, namun sarat semangat.
Di desa ini, lahirlah kisah inspiratif dari seorang remaja kelas 3 SMA. Setiap malam, tanpa mengeluh, ia menempuh perjalanan sekitar 20 menit menuju Masjid Jamik di Desa Sinampang.
Bukan karena kewajiban, tapi karena kecintaan, cinta terhadap ilmu agama dan keinginan kuat untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.
Di masjid tersebut, sang remaja berguru kepada Ustaz Saprianto Ujung, dai yang diamanahkan oleh Forum Dakwah Perbatasan (FDP) untuk membina masyarakat di wilayah terluar.
Ustaz Saprianto bukan sekadar mengajar; ia hadir sebagai pembimbing, sahabat, sekaligus teladan yang menyemai nilai-nilai Islam dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Bersama para pemuda lainnya, sang dai tak hanya mengajarkan bacaan Al-Qur’an yang benar, tetapi juga membentuk karakter, menguatkan akidah, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya hidup berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Dampaknya mulai terasa: semangat ibadah tumbuh, masjid kembali ramai, dan anak-anak muda mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka.
Apresiasi yang tulus layak diberikan kepada para dai seperti Ustaz Saprianto. Di tengah keterbatasan fasilitas dan jauhnya jangkauan, mereka tetap memilih untuk mengabdi, membawa harapan baru dan menjadi penjaga akidah di batas-batas negeri.
Kehadiran mereka bukan hanya soal dakwah, tapi juga tentang membangun peradaban: melahirkan generasi Qur’ani yang siap meneruskan estafet kebaikan bagi masa depan desa-desa di perbatasan. []
🙏Salurkan donasi untuk kegiatan dakwah di rekening forum dakwah perbatasan:
#BSi a.n Dakwah Perbatasan. No rek : 4194431650
#bankaceh a.n Yayasan Forum Dakwah Perbatasan. No rek : 01001080000421




